Keraton Surakarta Serahkan Minyak Jamas kepada Kasepuhan Kadilangu, Teguhkan Ikatan Sejarah dan Budaya
DEMAK – Pemerintah Kabupaten Demak bersama Kasepuhan Kadilangu kembali menggelar salah satu prosesi adat paling sakral dalam rangkaian perayaan Grebeg Besar, yakni tradisi Abon-Abon. Acara penyerahan Minyak Jamas dari Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat kepada Kasepuhan Kadilangu ini berlangsung dengan khidmat di Pendopo Notobratan Kadilangu pada Minggu pagi (24/5/2026).
Dalam sambutannya sebagai tuan rumah, Sesepuh Ahli Waris Sunan Kalijaga, H.R. Muhammad Cahyo Iman Santoso, menyampaikan rasa syukur yang mendalam atas tibanya minyak jamas tersebut. Beliau menjelaskan bahwa minyak ini merupakan elemen utama yang akan digunakan dalam prosesi sakral penjamasan pusaka peninggalan Sunan Kalijaga.
“Minyak dari Solo ini senantiasa kami nantikan setiap tahunnya. Rencananya, minyak jamas ini akan digunakan pada hari Rabu esok untuk prosesi menjamas pusaka Sunan Kalijaga. Kami berharap seluruh rangkaian prosesi penjamasan dapat berlangsung dengan lancar, tertib, aman, dan penuh berkah”, ujar H.R. Muhammad Cahyo Iman Santoso. Beliau juga mengapresiasi dukungan semua pihak yang terus menjaga tali silaturahmi ini agar membawa manfaat luas bagi masyarakat Demak.
Perwakilan Keluarga Keraton Kasunanan Surakarta, KGPH Adipati Panembahan Drs. Dipokusumo M.S.i, menekankan bahwa tradisi Abon-Abon bukan sekadar rutinitas seremonial, melainkan bagian dari sejarah panjang yang telah bertahan lebih dari lima abad. Tradisi ini merupakan pilar penting yang membentuk kebudayaan nasional.
Dalam kesempatan tersebut, beliau memaparkan makna spiritual yang mendalam dari kisah sejarah perpindahan Keraton Surakarta. Salah satunya adalah tradisi membawa takir yang berisi tanah atau wedi. Beliau menerangkan bahwa takir secara filosofis dimaknai sebagai simbol ‘tata pikir’ dan dzikir sebuah pesan mendalam mengenai kebijaksanaan, keteladanan, serta kedekatan kepada Tuhan Yang Maha Esa.
Lebih lanjut, KGPH Dipokusumo mengajak seluruh elemen untuk melihat tradisi ini sebagai peluang strategis dalam memajukan pariwisata daerah. “Pengembangan wisata budaya memerlukan kolaborasi yang solid antara pemerintah, masyarakat, pelaku seni budaya, serta pelaku UMKM. Sinergi ini penting agar mampu menggerakkan perekonomian masyarakat sekaligus menjaga kelestarian tradisi. Ikatan sejarah yang kuat ini harus terus kita perkenalkan kepada generasi muda,” tuturnya.
Bupati Demak, dr. Hj. Eisti’anah, S.E., dalam sambutannya menyampaikan apresiasi dan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Keraton Surakarta dan keluarga besar Kasepuhan Kadilangu. Bupati menegaskan bahwa tradisi Abon-Abon merupakan pilar penting yang mengawali puncak kemeriahan Grebeg Besar Demak.
“Kegiatan ini merupakan bentuk kolaborasi yang luar biasa dalam rangkaian pelaksanaan Grebeg Besar, mulai dari Pisowanan Kesepuhan, Pisowanan Balik, Ancakan, Tumpeng Songo, hingga pada puncaknya nanti pada tanggal 10 Dzulhijjah yang dimeriahkan dengan iring-iringan prajurit 40-an serta penjamasan pusaka Kutang Ontokusumo”, ungkap Bupati Eisti’anah.
Bupati menambahkan, penyerahan abon-abon tidak hanya menjadi simbol adat semata, tetapi mencerminkan eratnya hubungan sejarah, budaya, dan spiritual yang harmonis antara ulama, keraton, dan masyarakat dalam membangun peradaban Islam di tanah Jawa. Hubungan lintas generasi ini dinilai sarat akan nilai penghormatan kepada leluhur dan penguat karakter masyarakat.
Di akhir sambutannya, Bupati berharap agar momentum kebudayaan ini mampu mendorong sektor pariwisata di Kabupaten Demak, yang pada gilirannya akan meningkatkan kesejahteraan masyarakat lokal. Beliau berkomitmen bahwa Pemerintah Kabupaten Demak akan terus berada di garda depan dalam mendukung setiap upaya pelestarian nilai budaya dan spiritual warisan leluhur. (Prokompim)
Senin, 25 Mei 2026 8:0